Bukti lemahnya etika generasi milenial di media sosial

Sponsor

{ads}

Subscribe Us

Bukti lemahnya etika generasi milenial di media sosial

Kamis, 13 April 2023, April 13, 2023

Di tengah banyaknya manfaat yang diberikan oleh internet kepada peradaban manusia, termasuk dalam memenuhi kebutuhan generasi milenial, internet juga membuka ruang terhadap perpecahan sosial. Pasalnya, internet dapat mengubah secara radikal cara manusia berkomunikasi dan berpikir.

 Generasi milenial cenderung menggunakan media sosial untuk mengekspresikan eksistensi mereka. Eksistensi ini ditunjukkan melalui kegiatan mereka di media sosial, seperti mengunggah gambar, video, komentar, dan ucapan. Mereka pun gemar melacak akun yang menarik perhatian mereka, bahkan mencari tahu informasi tentang teman meskipun mereka sudah tidak bicara untuk waktu yang lama.

 Media sosial pada akhirnya membuat mereka menarik dirinya dari realitas untuk kemudian masuk ke dalam ruang virtual, di mana ego dan identitas dibangun dalam wujud artifisial. Imbasnya, pengingkaran akan setiap batas, hambatan, aturan, ideologi dan pelanggaran etika dalam berkomunikasi tidak dapat di hindari

 Manusia seakan dapat mengembara secara bebas di dalam dunia fantasi, halusinasi, dan ilusinya tanpa perlu ada pengendalian sosial, moral, spiritual, etika dan komunikasi

 Maka tidak heran jika media sosial sangat lekat dengan hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran etika, moral, nilai-nilai kemanusiaan dan cara berkomunikasi yang bersifat universal

 Hal-hal yang secara etika dapat merugikan orang lain, seperti menyebarkan ujaran kebencian, bullying, menyebarkan konten pornografi tanpa izin atau consent, menyebarkan berita palsu, melakukan penipuan, dan lain sebagainya sering dilakukan saat berselancar di internet. sedikit membahas tentang "netika"

 Netika (netiquette) atau etika di ruang siber (cyber-ethic) merupakan aturan dan tata cara penggunaan internet sebagai alat komunikasi atau pertukaran data antar-sekelompok orang dalam sistem yang tersedia internet

 Sama seperti aturan etika di dunia nyata, netika juga mendorong para pengguna untuk taat pada aturan etis dan moral – meskipun tidak tertulis – untuk menciptakan ruang bersama yang nyaman dan aman.

 Oleh karena itu, netika menjadi hal yang sangat penting untuk benar-benar diterapkan karena proses komunikasi yang terjadi di media siber mereplikasi bentuk komunikasi di dunia nyata.

 Sayangnya, fenomena pelanggaran etika dan moral di dunia maya ini tidak selalu dipahami dan diperhatikan dengan baik oleh institusi utama yang memberikan pendidikan etika, yakni sekolah, institusi agama, dan keluarga.

 

Itulah mengapa prinsip netika cenderung terabaikan, khususnya oleh generasi milenial. Mereka merasa ingin bebas dan menjadikan ruang siber sebagai ruang privasi – alih-alih ruang publik.

 Beberapa panduan netika untuk generasi milenial

Teruntuk para pengguna media sosial, terutama para generasi milenial, berikut beberapa panduan yang perlu diperhatikan saat mengakses internet dan media sosial:

 

Pertama, pastikan setiap postingan kita tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman, baik secara fisik maupun emosional. Meski tidak ada kontak langsung dengan orang lain, ingatlah bahwa jejaring kita adalah manusia yang memiliki perasaan.

 

Kedua, jangan membuat ketegangan dengan orang lain. Kalau pun terjadi perdebatan, maka diskusikan gagasan dan idenya, bukan menyerang orangnya.

 

Ketiga, sebelum mengomentari atau mengunggah konten di media sosial, pilihlah kata-kata atau kalimat yang tepat dan berkorelasi dengan apa yang sedang dibahas atau diperdebatkan.

 Keempat, hargai pendapat dan pandangan orang lain. Interaksi di media sosial adalah proses pertukaran ide dan gagasan, maka hargai setiap pendapat yang disampaikan oleh pihak-pihak yang berbeda.

 

Kelima, ingat bahwa tidak ada kebebasan berpendapat yang mutlak di internet. Kebebasan yang ditawarkan oleh dunia maya adalah kebebasan terbatas, dalam artian penggunanya dibatasi oleh nilai etika dan kemanusiaan.

 

Maka dari itu, batasilah diri untuk memilih mana yang akan kita posting dan mana yang tidak perlu. Berhati-hatilah dengan cara penyampaian kita atau cara berkomunikasi kita agar tidak terjebak dalam kejahatan siber. dan Pemerintah perlu mengintensifkan edukasi literasi digital pada masyarakat sehingga potensi pelanggaran etika, norma, dan nilai kebangsaan dapat diminimalisasi.

 Dari sisi masyarakat sebagai pengguna, dibutuhkan kontrol individu dan keluarga dalam akses internet. Batasi penggunaan internet bagi anak-anak baik dari segi waktu maupun aplikasi yang dapat mereka akses.

 Netika dapat menjadi panduan bagi netizen, khususnya generasi milenial dalam interaksi di media sosial. Etika dan dan aturan-aturan juga berlaku di dunia virtual meski hal itu tidak tertulis.

 


TerPopuler