Di
tengah banyaknya manfaat yang diberikan oleh internet kepada peradaban manusia,
termasuk dalam memenuhi kebutuhan generasi milenial, internet juga membuka
ruang terhadap perpecahan sosial. Pasalnya, internet dapat mengubah secara
radikal cara manusia berkomunikasi dan berpikir.
Generasi milenial cenderung
menggunakan media sosial untuk mengekspresikan eksistensi mereka. Eksistensi
ini ditunjukkan melalui kegiatan mereka di media sosial, seperti mengunggah
gambar, video, komentar, dan ucapan. Mereka pun gemar melacak akun yang menarik
perhatian mereka, bahkan mencari tahu informasi tentang teman meskipun mereka
sudah tidak bicara untuk waktu yang lama.
Media sosial pada akhirnya
membuat mereka menarik dirinya dari realitas untuk kemudian masuk ke dalam ruang
virtual, di mana ego dan identitas dibangun dalam wujud artifisial. Imbasnya,
pengingkaran akan setiap batas, hambatan, aturan, ideologi dan pelanggaran
etika dalam berkomunikasi tidak dapat di hindari
Manusia seakan dapat
mengembara secara bebas di dalam dunia fantasi, halusinasi, dan ilusinya tanpa
perlu ada pengendalian sosial, moral, spiritual, etika dan komunikasi
Maka tidak heran jika media
sosial sangat lekat dengan hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran etika,
moral, nilai-nilai kemanusiaan dan cara berkomunikasi yang bersifat universal
Hal-hal yang secara etika
dapat merugikan orang lain, seperti menyebarkan ujaran kebencian, bullying,
menyebarkan konten pornografi tanpa izin atau consent, menyebarkan berita
palsu, melakukan penipuan, dan lain sebagainya sering dilakukan saat
berselancar di internet. sedikit membahas tentang "netika"
Netika (netiquette) atau
etika di ruang siber (cyber-ethic) merupakan aturan dan tata cara penggunaan
internet sebagai alat komunikasi atau pertukaran data antar-sekelompok orang
dalam sistem yang tersedia internet
Sama seperti aturan etika di
dunia nyata, netika juga mendorong para pengguna untuk taat pada aturan etis
dan moral – meskipun tidak tertulis – untuk menciptakan ruang bersama yang
nyaman dan aman.
Oleh karena itu, netika
menjadi hal yang sangat penting untuk benar-benar diterapkan karena proses
komunikasi yang terjadi di media siber mereplikasi bentuk komunikasi di dunia
nyata.
Sayangnya, fenomena
pelanggaran etika dan moral di dunia maya ini tidak selalu dipahami dan
diperhatikan dengan baik oleh institusi utama yang memberikan pendidikan etika,
yakni sekolah, institusi agama, dan keluarga.
Itulah mengapa prinsip netika
cenderung terabaikan, khususnya oleh generasi milenial. Mereka merasa ingin
bebas dan menjadikan ruang siber sebagai ruang privasi – alih-alih ruang
publik.
Beberapa panduan netika untuk
generasi milenial
Teruntuk para pengguna media
sosial, terutama para generasi milenial, berikut beberapa panduan yang perlu
diperhatikan saat mengakses internet dan media sosial:
Pertama, pastikan setiap postingan
kita tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman, baik secara fisik maupun
emosional. Meski tidak ada kontak langsung dengan orang lain, ingatlah bahwa
jejaring kita adalah manusia yang memiliki perasaan.
Kedua, jangan membuat ketegangan
dengan orang lain. Kalau pun terjadi perdebatan, maka diskusikan gagasan dan
idenya, bukan menyerang orangnya.
Ketiga, sebelum mengomentari atau
mengunggah konten di media sosial, pilihlah kata-kata atau kalimat yang tepat
dan berkorelasi dengan apa yang sedang dibahas atau diperdebatkan.
Keempat, hargai pendapat dan
pandangan orang lain. Interaksi di media sosial adalah proses pertukaran ide
dan gagasan, maka hargai setiap pendapat yang disampaikan oleh pihak-pihak yang
berbeda.
Kelima, ingat bahwa tidak ada
kebebasan berpendapat yang mutlak di internet. Kebebasan yang ditawarkan oleh
dunia maya adalah kebebasan terbatas, dalam artian penggunanya dibatasi oleh
nilai etika dan kemanusiaan.
Maka dari itu, batasilah diri untuk
memilih mana yang akan kita posting dan mana yang tidak perlu. Berhati-hatilah
dengan cara penyampaian kita atau cara berkomunikasi kita agar tidak terjebak
dalam kejahatan siber. dan Pemerintah perlu mengintensifkan edukasi literasi
digital pada masyarakat sehingga potensi pelanggaran etika, norma, dan nilai
kebangsaan dapat diminimalisasi.
Dari sisi masyarakat sebagai
pengguna, dibutuhkan kontrol individu dan keluarga dalam akses internet. Batasi
penggunaan internet bagi anak-anak baik dari segi waktu maupun aplikasi yang
dapat mereka akses.
Netika dapat menjadi panduan
bagi netizen, khususnya generasi milenial dalam interaksi di media sosial.
Etika dan dan aturan-aturan juga berlaku di dunia virtual meski hal itu tidak
tertulis.